TfYpGSdiGSG6TUC6GSroTpOoGi==
Light Dark
DARI BUKIT KE KELAS: 13 TAHUN NURSIATI-ZAINURI BUKA AKSES PAUD DI PUNCAK SULING WETAN

DARI BUKIT KE KELAS: 13 TAHUN NURSIATI-ZAINURI BUKA AKSES PAUD DI PUNCAK SULING WETAN

×
DARI BUKIT KE KELAS: 13 TAHUN NURSIATI-ZAINURI BUKA AKSES PAUD DI PUNCAK SULING WETAN
BONDOWOSO, – Tak ada gedung megah di ujung Dusun Lalangan RT 18, Desa Suling Wetan, Kecamatan Cermee. Yang ada hanya dua ruang kelas sederhana dan semangat sepasang suami istri: Nursiati, 47, dan M. Zainuri, 50. Dari bukit yang diratakan pakai cangkul warga, mereka melahirkan harapan bernama PKBM Dusun Lalangan.

Tahun 2011, warga gotong royong meratakan tanah bukit. Dua tahun pertama, kegiatan belajar menumpang di bangunan darurat berdinding bambu. Kalau hujan, air masuk. Kalau panas, debu beterbangan. 

“Dulu muridnya cuma 12 anak. Meja kursinya numpang di musholla milik Ibu. Bukunya pinjam ke tetangga,” kenang Nursiati saat ditemui di PKBM, Senin 14/4/2026.

Medan menantang tak memadamkan niat. Warga swadaya. Orang tua murid bawa batu, bawa pasir. 2015, dua ruang kelas permanen berdiri. Kini PKBM menampung 40 anak usia 4-6 tahun. Tiga tutor honorer setia mendampingi. Gajinya pas-pasan: iuran orang tua Rp15 ribu/bulan ditambah bantuan seadanya.

Halaman Becek, Anak Sering Terpeleset  
Masalah terbesar muncul saat musim hujan. Halaman dan lantai kelas masih tanah. Air menggenang jadi kubangan. Anak-anak sering terpeleset. Musim kemarau, debu masuk ke paru-paru.

“Kami butuh paving blok 200 m² biar anak nggak becek. Sama alat peraga edukatif APE. Anak PAUD itu belajarnya lewat main. Sekarang kami cuma punya kardus bekas dan tutup botol bekas,” kata M. Zainuri yang merangkap tukang, satpam, sekaligus guru.

Tanpa APE, proses belajar jadi monoton. Padahal usia 0-6 tahun adalah golden age. Sementara TK terdekat jaraknya 4 km dengan jalan menanjak. Bagi warga Dusun Lalangan, PKBM adalah satu-satunya akses pendidikan yang terjangkau.

Sekolah Itu Hak, Bukan Mewah, PKBM ini bukan kisah bantuan besar. Ini kisah gotong royong. 2011 warga ratakan bukit. 2015 bangun kelas. 2023 dapat bantuan atap dari CSR. Tapi untuk paving dan APE senilai sekitar Rp25 juta, mereka mentok.

“Kami nggak minta gedung mewah. Cukup anak-anak bisa belajar tanpa jatuh di lumpur, dan punya mainan edukatif. Sekolah itu hak, bukan mewah,” ujar Nursiati, matanya berkaca.

Kepala Desa Suling Wetan, [Nama Kades], membenarkan. “Kami sudah ajukan proposal ke Dinas Pendidikan dan Baznas. Tapi antreannya panjang. Semoga ada dermawan yang tergerak bantu anak-anak kami,” ujarnya.

Butuh Uluran Tangan, 
Saat ini PKBM Dusun Lalangan membutuhkan
Paving blok 200 m² untuk halaman sekolah yang becek saat hujan dan balok susun, set meja-kursi anak ukuran PAUD

Donasi bisa disalurkan melalui [Nama Bendahara] nomor [08xx-xxxx-xxxx] atau datang langsung ke PKBM Dusun Lalangan, Desa Suling Wetan.

Dari bukit yang diratakan tangan warga, lahir harapan baru. Kini harapan itu butuh dirawat. Agar anak-anak Suling Wetan bisa melangkah ke SD tanpa takut jatuh di lumpur halaman sendiri.(Cip)

0Komentar

SPONSOR