TfYpGSdiGSG6TUC6GSroTpOoGi==
Light Dark
Warga Probolinggo Curhat Soal Jembatan Roboh di Live TikTok Bupati Situbondo, Picu Perbincangan Warganet

Warga Probolinggo Curhat Soal Jembatan Roboh di Live TikTok Bupati Situbondo, Picu Perbincangan Warganet

×
Warga Probolinggo Curhat Soal Jembatan Roboh di Live TikTok Bupati Situbondo, Picu Perbincangan Warganet
PROBOLINGGO – Sebuah momen tak biasa terjadi dalam siaran langsung TikTok yang dilakukan Bupati Situbondo, Rio, yang membuka ruang aduan publik bagi masyarakat Situbondo. Di tengah sesi interaktif tersebut, seorang pengguna bernama Sudiyono tiba-tiba bergabung dan menyampaikan keluhan, meski mengaku bukan warga Situbondo melainkan berasal dari Kabupaten Probolinggo.


Dalam siaran tersebut, Sudiyono memperkenalkan diri dan secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan tertentu. Ia menegaskan hanya ingin menyampaikan keluh kesah terkait kondisi infrastruktur di daerahnya. “Saya bukan warga Situbondo, saya warga Probolinggo. Nggak minta apa-apa, cuma ingin curhat,” ujarnya dalam logat khas Jawa Timuran.

Beberapa kali ia menyelipkan ungkapan “Probolinggo SAE” sembari menyampaikan bahwa jembatan di wilayahnya roboh dan belum tertangani secara optimal. “Enjek, Pak, tak nyuro meccek, gun ngabele acurhat,” ucapnya, yang dalam konteks percakapan bermakna permohonan agar keluhannya sekadar didengar.

Pernyataan tersebut langsung memicu respons warganet. Kolom komentar dipenuhi berbagai tanggapan, mulai dari sindiran hingga kritik terhadap tata kelola penanganan infrastruktur dan bencana. Seorang pengguna bernama Imam menuliskan, “Cokop eberik pantun mun Probolinggo langsung SAE,” yang bernada satir.

Komentar lain menyoroti pola respons pemerintah daerah terhadap bencana. “Probolinggo absurd, masak iya satu lokasi didatangi dua instansi. Contoh longsor Segaran sebelumnya didatangi Dinas PUPR dan BPBD,” tulis salah satu akun, mempertanyakan efektivitas koordinasi antarorganisasi perangkat daerah.

Tak hanya itu, kritik juga diarahkan pada gaya kepemimpinan saat turun ke lokasi bencana. Seorang warganet menulis, “Bupati ini sebenarnya kasihan, turun marwahnya ketika turun ke lokasi bencana ikut bagi-bagi sembako. Harusnya kan minimal langsung ngasih solusi, telepon dinas-dinas terkait untuk segera memberikan solusi, bukan rakyat disuruh sabar terus.”

Komentar tersebut mencerminkan ekspektasi publik yang semakin tinggi terhadap peran kepala daerah dalam situasi darurat. Sebagian masyarakat menilai bahwa kehadiran simbolik di lapangan perlu dibarengi dengan langkah strategis dan keputusan cepat yang bersifat solutif, bukan sekadar respons karitatif.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial telah menjadi ruang akuntabilitas publik yang terbuka. Siaran langsung kepala daerah bukan hanya menjadi medium komunikasi satu arah, tetapi juga arena evaluasi spontan dari masyarakat, bahkan lintas kabupaten.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo terkait keluhan yang disampaikan dalam siaran tersebut. Namun peristiwa ini menegaskan bahwa isu infrastruktur, khususnya jembatan dan akses penghubung, tetap menjadi kebutuhan mendesak yang memerlukan koordinasi cepat, transparan, dan terukur di tingkat pemerintah daerah.

Di era digital, keluhan tidak lagi menunggu forum musyawarah resmi. Ia bisa muncul di kolom komentar, di ruang siaran langsung, dan disaksikan ribuan pasang mata dalam hitungan detik. Dan ketika itu terjadi, publik menunggu lebih dari sekadar empati—mereka menunggu solusi konkret. (Red)

0Komentar

SPONSOR